• WANGSIT SILIWANGI - NOVEL KEDUA DWILOGI PRABU SILIWANGI

    IDR 50,000.00
    Available
    Maaf. Produk ini belum tersedia saat ini.
    Beritahu saya melalui email saat stok produk ini kembali tersedia:
    Wangsit Siliwangi - Novel Kedua Dwilogi Prabu Siliwangi
    -- Harimau di Tengah Bara

    • Kode Buku : UFS019
    • ISBN: 9786028672009
    • Penulis: E. Rokajat Asura
    • Penerbit: Edelweiss (Mizan)
    • Tgl/Thn Terbit: 2009
    • Jumlah Halaman : 443
    • Berat Buku : 0,4 kg
    • Format Buku : Soft Cover 
    • Buku bekas, kondisi sangat baik, ex koleksi pribadi

    Ketegangan antara Prabu Siliwangi dan Pangeran Cakrabuana memuncak setelah hubungan antara Cirebon-Demak semakin mesra di satu pihak, dan di pihak lain Pajajaran sendiri mulai main mata dengan Portugis yang baru menguasai Malaka.

    Kemesraan hubungan Cirebon-Demak ditandai dengan dipersatukannya para putra kedua negeri itu dalam ikatan perkawinan. Sementara penjajakan kerja sama yang dilakukan Pajajaran dengan Portugis yang membuat Cirebon-Demak panas dingin, dilakukan salah satu alasannya mengantisipasi kekuatan maritim Cirebon-Demak. Pelanggaran Cirebon yang membuat Prabu Siliwangi mempersiapkan pasukan perang secara besar-besaran adalah kenyataan di mana Tumenggung Jagabaya yang diutus untuk menyelesaikan masalah justru tak kembali ke Pajajaran.

    Pergeseran kehidupan akibat hadirnya Islam ini, dinilai menjadi sumber petaka bagi Pajajaran. Sejatinya ketidaksenangan Prabu Siliwangi bukan terhadap Kesultanan Cirebon dan Islam semata, melainkan karena hubungan dengan Demak yang terlalu akrab pemicu membuncahnya kemarahan.

    Selangkah sebelum genderang perang ditabuh, purohita Pajajaran, Ki Purwagalih mengingatkan. ″Cirebon sebenarnya bukan siapa-siapa sekalipun akhir-akhir ini sering berulah. Bukankah Syarif Hidayatullah yang menjadi Susuhunan Jati sekarang adalah putra dari Nyimas Ratu Rarasantang, putri Gusti Prabu sendiri? Bukankah Pangeran Cakrabuana yang tak lain adalah Prabu Anom Walangsungsang, putra Gusti Prabu sendiri? Bagaimana tanggapan negeri-negeri sahabat juga Portugis yang telah bersedia untuk kerja sama, jika seorang kakek memerangi cucunya sendiri dengan pasukan perang luar biasa seperti ini? Ampun Gusti Prabu, aku terlalu lancang bicara seperti ini!" jelas Ki Purwagalih menunduk makin dalam. Prabu Siliwangi mendengus pada angin.