• KESATRIA TERAKHIR - MISTERI RUNTUHNYA KERAJAAN PAJAJARAN

    IDR 98,000.00 IDR 69,000.00
    Available
    Maaf. Produk ini belum tersedia saat ini.
    Beritahu saya melalui email saat stok produk ini kembali tersedia:
    Ksatria Terakhir - Misteri Runtuhnya Kerajaan Pajajaran

    • Kode Buku : FS077
    • ISBN: 9786027926400
    • Penulis : E. Rokajat Asura
    • Penerbit : Imania (Mizan)
    • Tgl/Thn Terbit : -
    • Jumlah Halaman : 586
    • Berat Buku : 0.6 kg
    • Ukuran Buku: 14 x 21 cm

    Pasca terjadinya burak (runtuhnya) Pajajaran 1579 M, Maulana Hasanudin tidak serta-merta menjadikan Pakuan (ibu kota Pajajaran) sebagai pusat pemerintahan bercorak Islam seperti Surasowan (Banten) dan Pakungwati (Cirebon). Pakuan dibiarkannya menjadi kawasan terbengkalai. Laporan Scipio (1687), Adolf Winkler (1690), dan para peneliti Barat sesudahnya, menemukan bekas-bekas reruntuhan di kawasan Pakuan Pajajaran ini.

    Dalam cerita-cerita tradisional dikisahkan setelah Prabu Siliwangi moksa, Keraton Pakuan berubah menjadi kawasan hutan. Dalam naskah Pantun Bogor episode Dadap Malang Sisi Cimandiri – yang menjadi spirit dan latar belakang novel Kesatria Terakhir ini – disebutkan bagaimana kobaran api yang membakar keraton dan seluruh kawasan kota Pakuan menghanguskan seluruh bangunan dan pepohonan, meninggalkan bara yang tidak padam selama beberapa minggu sesudahnya. Watu Gigilang berhasil diboyong ke Surasowan, tetapi mahkota Binokasih Sanghyang Pake lolos dan dibawa ke Sumedang Larang.

    Dua puluh tahun setelah peristiwa burak Pajajaran, dua orang mantan prajurit Pajajaran yaitu Ki Tanjung Rangga dan Pandita Tundapura, berhasil mendidik dan membesarkan dua anak muda – Raksa Rineka dan Nyai Lara Bumi – untuk memelihara semangat mendirikan kembali Pajajaran Anyar. Waktu kemudian mempertemukan keduanya dalam kisah asmara. Ketika asmara bertakhta, Nyai Lara Bumi bertemu sang ayah yang tak lain pembunuh orang tua Raksa Rineka. Akankah Raksa Rineka memaafkan dan tetap mencintai Nyai Lara Bumi yang wangi tubuhnya selalu tak bisa hilang dari kesadarannya? Akankah dua insan murid Ki Tanjung Rangga dan Pandita Tundapura itu mampu membangun kembali Pajajaran Anyar?